Life Must Be Reserved

Anak adalah titipan Sang Pencipta. Ini selalu diucapkan oleh siapa pun yang memiliki anak. Kata "titipan" ini bisa berimplikasi positif, tapi juga secara negatif.

Implikasinya positif apabila anak adalah titipan Tuhan maka anak harus dirawat sebagai "anak Tuhan".

Tapi persoalannya adalah kita tidak tahu bagaimana Tuhan merawat Anak. Namun satu hal penting, sebagai titipan Tuhan, maka orangtua tidak layak untuk menguasai anaknya. 

Sementara implikasinya negatif apabila anak justru diperlakukan sebagai titipan hingga tidak diapa-apakan, dibiarkan atau malah tak diperhatikan.

Entah mana yang Anda pilih sebagai orangtua. Yang jelas orangtua kerap menjadikan anak sebagai korban ketidakdewasaan emosional mereka.

Para orangtua justru bukannya membantu anak menjadi pribadi-pribadi yang luwes namun tegas, bebas sekaligus berprinsip, orangtua malah kerap mengendalikan dan mempermainkan emosi anak mereka.

Sikap yang disebut terakhir inilah yang oleh seorang therapist Susan Forward, Phd sebagai “emotional blackmail”. Istilah EMOTIONAL BLACKMAIL berarti pemerasan emosi yang dilakukan seseorang untuk membuat orang lain merasa bersalah jika tidak menuruti apa yang diinginkannya.

Penulis buku "Mothers Who Can’t Love" (www.susanforward.com) ini menyebut bahwa emotional blackmail kelak akan menciptakan kabut FOG (Fear, Obligation, Guilt), tepatnya pada saat orangtua merasa memiliki posisi superior hingga mereka merasa bisa “melakukan apa saja” terhadap anak yang ia pandang sebagai sang inferior.

Banyak orangtua yang menerapkan kabut FOG ini dalam mendidik anak di rumah. Mereka kerap memanipulasi anak dengan menciptakan ketakutan bila menentang, dan merasa wajib mengikuti cara yang ia lakukan sehingga si anak akan merasa bersalah jika tidak melakukannya.

Secara tak sadar banyak orangtua merasa dirinya amat berpengaruh pada masa depan sang anak. Ini bisa benar dengan pengandaian orangtua sungguh bisa dijadikan teladan oleh anak mereka. Namun serentak bisa saja sesat justru disaat orang tua merasa dia adalah kebenaran itu sendiri (diktator).

Setiap orangtua memang menginginkan hal-hal yang terbaik bagi anak-anak mereka. Mereka ingin anaknya sukses, hidup bahagia, punya karir mantap, penghasilan yang lebih dari cukup, perilaku yang baik dan menyenangkan, dan lain sebagainya.

Sayangnya, tidak semua orangtua memahami bahwa masing-masing anak memiliki kepribadian, karakter, bahkan juga impian dan cita-cita.

Entah disengaja atau tidak, orangtua kerap memaksakan kehendak mereka kepada anak-anak tanpa menimbang kemampuan, kesiapan, dan perasaan anak-anak dengan dalih karena kita ingin anak-anak kita mendapatkan yang terbaik untuk kehidupan mereka.

Akhirnya, para orangtua kerap menerapkan apa yang disebut “HYPER PARENTING” di mana para orangtua memaksakan kehendaknya kepada anak mereka untuk mewujudkan keinginannya sebagai orangtua, termasuk ketika tujuan tersebut demi mengembangkan kemampuan dan mewujudkan kehidupan yang baik bagi mereka.

Hyper-parenting yang diterapkan sebagai pola asuh oleh orangtua selalu terkait dengan masa kecil mereka yang hampir sama. Atau, biasanya juga terjadi pada orangtua yang merasa tidak puas dengan karir atau segala hal yang mereka peroleh, sehingga mereka melampiaskannya pada anak-anak mereka.

Contoh, seorang anak ingin memilih jurusan seni rupa. Namun, dengan segenap pertimbangan, orangtua memaksa anaknya untuk masuk jurusan teknik pertambangan. Hampir pasti orangtua akan merasa kecewa bila sang anak tidak mengikuti saran mereka; atau mereka akan membolehkan namun dengan gesture tubuh yang berlawanan. Akhirnya, demi menjaga perasaan orangtua, sang anak pun terpaksa memilih jurusan teknik pertambangan, kendati tidak sesuai hati.

Anak yang baik bukanlah pertama-tama anak yang selalu patuh pada orangtua, di setiap saat bahkan tanpa syarat. Orangtua juga harusnya bertanya anak mereka terlampau penurut. Sebab, sikap manut pada siapa pun, pihak mana pun dan tak memiliki prinsip hanya karena masalah perasaan kelak akan membahayakan diri mereka sendiri.

Sebenarnya sih, wajar saja bila orangtua berharap anak-anak mereka dapat mewujudkan keinginan mereka. Tapi memaksakan kehendak bukanlah jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah.

Selalu ada dampak yang sangat fatal bagi anak-anak bila hyper parenting dipraktikkan, yakni bisa menghambat pertumbuhan anak sehingga menimbulkan kemarahan yang berlebihan. Kelak dengan cara ini anak-anak merasa tidak memiliki kebebasan untuk memilih atau melakukan keinginannya sendiri.

Merawat tubuh adalah merawat kehidupan. Merawat kehidupan berarti merawat relasi dengan semesta, tapi terutama relasi dengan sesama. Merawat relasi harus kita mulai dengan merawat relasi dengan orang terdekat kita, termasuk antar orangtua dan anak. 

Relasi yang baik dan harmonis adalah relasi yang sinergi antar manusia yang satu dengan manusia yang lain. Bila sebaliknya yang terjadi, bila disharmoni yang mendominiasi kehidupan kita maka itu berarti kita harus memulihkannya. 

LIFE MUST BE RESERVED ! 
Hidup harus dipulihkan !


Posting Komentar

0 Komentar