Meracik Hidup



Sepanjang tinggal di Kuta, Bali aku aku punya kebiasaan 'mampir' ke kelenteng untuk 'berdoa' dua kali dalam sebulan. Dalam beberapa bulan terakhir aku selalu bertemu dengan seorang wanita hebat, yang kerap aku anggap sebagai sahabat pelindungku.

Wanita usia 70-an itu seorang ibu penjual jamu, atau orang Jawa sering menyebutnya mbok jamu. Dia wanita hebat. Kesan itu yang selalu terpikir olehku saat melihat sosoknya.


Bagaimana tidak hebat? Ia selalu menggendong puluhan botol jamu hasil racikannya sendiri, ditambah beberapa kue-kue basah yang ia jinjing di keranjang yang tak kalah besar dari bakunya.

"Selamat pagi, bu," sapaku lembut. Tentu saja ia mengenal suaraku, hingga ia terbangun dari tidurnya.

Ia memang terlihat lelah setelah beberapa jam sebelumnya ia telah menjajakan jualannya. Tak jarang ia sambil tertidur dtemani botol-botol jamu, termos berisi air panas, dan tentu saja kue-kue basah jualannya.

Di pasar, dekat klenteng tempat aku berdoa itu ia biasa 'nongkrong' menanti para pelanggannya. Setelahnya ia baru berkeliling menghampiri rumah-rumah para langganannya yang lain.

Dalam hati aku merasa bersalah mengapa aku membangunkan dia tidur pulasnya pag itu. Buru-buru aku minta maaf denga lembut, "Opsss ... maaf, bu. Jadi enggak enak neh. Ibu jadi terbangun gara-gara aku ya!"

Tapi bagaimana lagi, hasratku untuk menikmati Jamu Kunyit Sirih yang rasanya assoy hasil racikannya itu tak bisa lagi kutahankan. Belum lagi perkedel jagung kesukaanku terlihat di keranjang kuenya.

Sembari menunggu racikannya, seperti biasa aku selalu mengajaknya ngobrol. "Bu, kue-kue basah ini bikinan ibu sendri ya?" tanyaku.

"Enggak, Non. Enggak mungkin ibu bikin sendri, Npm. Soalnya ibu itu harus meracik jamu", jawabnya bersemangat.

Ibu yang sangat hebat. Ia sangat menginspirasi. Bayankgan wanita seusianya masih gesit berdagang jamu tradisional dan dengan cara yang sangat tradisional pula.

Bukan profit yang ia peroleh dengan menjual jamu dan keuntungan 500-an rupiah kue-kue basah titipan orang lain itu yang membuatku kagum padanya, melainkan semangatnya dan kegembiraannya menjalan hidupnya.

Berjumpa dengan sahabatku yang satu ini, aku selalu ingat ungkapan yang pernah dijadikan judul sebuah film Italia, "la' Vita est la Bella" (Life is Beautiful). Ya, Hidup itu Indah dan keindahan itu hanya akan terpancar dari cara kita meramunya. Ya, HIDUP ITU memang PERLU DIRAMU....

Lisa Huang

Posting Komentar

0 Komentar