Ngantuk

"Maaf ya, aku duluan. Saya sudah mengantuk!" adalah bahasa santun yang sering kita ucapkan untuk mengakhiri percakapan langsung atau via media sosial.

TUBUH MEMANG BUTUH ISTIRAHAT; DAN RASA KANTUK ADALAH GERBANG PENUTUP KELELAHAN KITA SEBELUM TUBUH KITA BIARKAN TERLELAP DALAM ISTIRAHAT.

Rasa kantuk tak lain dari rasa hendak tidur adalah situasi di mana tubuh merasa lelah dengan gestural-nya, pikiran lelah dengan imajinasinya, dan jiwa lelah dengan fungsi kontrolnya.

Menahan kantuk oleh karenanya juga tidak mudah. Menahan kantuk bahkan menjadi sebuah tantangan tersendiri di saat tubuh dan kehadiran Anda sangat dibutuhan dalam sebuah pertemuan atau percakapan penting.

Kantuk juga kerap menjadi "hadiah gratis" saat Anda menunggu seseorang atau menunggu giliran di dalam antrian panjang.

Jangan salah, rasa kantuk bisa saja menjadi berkah bagi kita. Bagaimana tidak, rasa kantuk adalah alarm keterbatasan raga atau jasmani kita.

Tubuh adalah wahana bagi produktivitas, dan oleh karenanya tubuh adalah mesin penggerak kreativitas kita. 

MERAWAT TUBUH oleh karenanya BERARTI MEMBIARKAN TUBUH BERGERAK SECARA ALAMI, MEMBERINYA ASUPAN BERGIZI DAN MEMBERINYA WAKTU UNTUK ISTIRAHAT.

BILA ASUPAN YANG DIBUTUHKAN TUBUH TAK TERPENHI, BAHKAN TAK BERIMBANG DENGAN KALORI YANG IA KELUARKAN, MAKA RASA KANTUK KERAP MENJADI PENYEBAB TERBENGKALAINYA PEKERJAAN KITA.


Di titik inilah pentingnya cadangan atau 'ban serap' dalam tubuh agar ia tetap berfungsi normal dan alami. Tanpa kita sadari tubuh selalu meminta pesanan khusus di saat kita memaksanya berproduksi.

Dalam bahasa Inggris, entah cadangan, serap atau memesan atau menyimpan adalah RESERVE. Itu berarti Anda harus selalu me-RESERVE tubuh Anda setiap hari.

Selamat beristirahat, sahabat-sahabatku.

Lisa Huang Jeunesse

Posting Komentar

0 Komentar