Pradoks Cinta

Ada paradoks dalam diri setiap orang dalam hal mencintai. 

Di satu sisi kita semua ingin dicintai melebihi besarnya cinta kita kepada orang yang mencintai kita.

Itu harapan kita semua. Tapi jangan salah, cinta / mencintai sebagai kata kerja (verb) aktif memang selalu memesona, hingga kita terkadeang merasa tak berdaya mendefinisikannya.

Di titik inilah usaha mencintai nyaris sama dengan usaha mengontrol diri kita sendiri. Bukankah cinta dapat memabukkan tetapi juga meninabobokan?
Kontrol diri pun menjadi sangat penting di saat rasa cinta (to love) bergerak ke arah rasa memiliki (sense of belonging, to have), hingga kita hanya bisa salah tingkah.

Tak heran ketika ada saja orang yang takut sekaligus bahagia ketika jatuh atau dijatuhi cinta. Anda tahu?
Paradoks rasa atau tumpang tindih yang acak adut antara peraasaan dan pengalaman seperti inilah yang menandakan kita sedang jatuh cinta, tetapi serentak kita tak siap menikmatinya.

Jadi, bila jatuh cinta atau dijatuhi cinta.. rasakan saja dan hiduplah bersama roh cinta itu, tetapi sekaligus tetap menapak bumi alias berpijak pada realitas.

Selamat siang para sahabat Lisahuang Jeunesse Global​ !

Posting Komentar

0 Komentar