Tertuduh

Kita semua tahu bagaimana rasanya "dituduh", tetapi serentak juga kita bisa merasakan bagaimana rasanya "menuduh".

Sayang sekali kata "tuduhan" sudah terlanjur selalu disandingkan dengan tindakan negatif, misalnya "Ahok cuek aja dituduh anti-islam dan pembawa kekafiran di negeri ini."

Takaran pengadilan yang tak bisa melepaskan diri dari tertuduh, tersangka, hingga terdakwa turut memengaruhi penggunaan kata tertuduh (accused) ini.

Bahwa perasaan tertuduh atau menuduh itu tidak menyenangkan pada akhirnya bukanlah yang utama; sebab seperti sudah disinggung di atas, kata itu sendiri sudah "dibeli" oleh pengadilan hukum.

Sebuah produk pun kerap disematkan sebagai produk yang positif dan disambut baik oleh pasar / konsumen, tetapi serentak juga produk yang sama bisa dicuekin pasar hingga produk tersebut menggunung di gudang penyimpanan.

Akhirnya kegagalan sebuah produk menjangkau pasar, terutama produk kesehatan bukanlah pertama-tama soal khasiat produk tersebut, melainkan cara produk itu "menjumpai" pasar, menemui calon penggunanya atau calon konsumennya.

Inilah tugas kita sebagai penjual di segala level yang tersedia, yakni memediasi produk dan customer; dan apabila cara terbaik tak dijalankan oleh seorang penjual, maka siap-siaplah ia dituduh sebagai biang kegagalan.


Lisa Huang

Posting Komentar

0 Komentar