We are the World

"We are the World" menjadi backing song #HariPanganSedunia (HPS) atau #WorldFoodDay yang dirayakan setiap 16 Oktober.

HPS ini awalnya didendangkan oleh para pengguna Twiiter di seluruh dunia.

Kita adalah dunia. Dunia itu ya kita. Tak ada kita tanpa dunia dan tak ada dunia tanpa kita. Minimal itu keyakinan kita yang masih hidup di dunia hic et nunc (kini dan saat ini).

Berbicara mengenai makanan di era ini tak ubahnya berbicara mengenai sandang.

Orang sudah bicara tentang selera, makanan sehat, pola diet dan berbagai tips-tips makanan sehat dan suplemen tambahan.

Akan jauh berbeda dengan keadaan di tahun 70-an hingga 90-an, di mana sebagian besar masyarakat kita masih kekurangan pangan. Di era itu kemiskinan menjadi penyebab utama kekurangan pangan.

Kendati sebagian besar masyarakat kita tak lagi dilanda kemiskinan, namun patut kita waspadai juga kurangnya "stok" makanan di Pulau Jawa, Maluku, Lombok dan beberapa daerah lain yang setiap tahun selalu dilanda kekeringan.

Apapun penyebab kurangnya persediaan pangan, atau sebanyak apa pun logistik yang tersedia, kita semua mengamini bahwa kita perlu makan! Itu kebutuhan primer, dan harus menjadi syarat awal ketika anda memutuskan diri untuk tetap bertahan hidup.

*****

Sebagaimana hidup, tubuh pun tak pernah berhenti menuntut kebutuhannya akan makanan. Kiranya kebutuhan itulah yang membuat hidup manusia berada dalam ketidakbebasannya, yakni "terpenjara oleh kebutuhan akan pangan".

Namun di sisi lain, makanan, tepatnya kebutuhan akan makanan itu jualah yang menggerakkan hidup kita lebih asyik dan menarik, hingga berada dalam alur yang kreatif.

Akhirnya tak bisa kita pungkiri bahwa pemenuhan akan kebutuhan dasar adalah langkah awal bagi kita semua untuk berkreasi. Namun, itu tampak minimalis.

Lantas bagaimana dengan kita yang selalu mengeluarkan energi ekstra saat mengekspresikan kreativitas kita? Di titik inilah makanan yang kita butuhkan bukan sekedar makanan an sich. Kita butuh pemulihan (RESERVE) tubuh yang lebih cepat, agar langkah hidup kita tak melambat.


Lisa Huang

Posting Komentar

0 Komentar