Memahami Seorang Remaja

Seorang remaja tiba-tiba membanting remote tivi di tangannya hanya karena kesal.

Ya, neneknya menyuruhnya berhenti menonton televisi karena sudah tiba saatnya untuk makan siang.

Entah mengapa anak itu begitu marah kepada nenek yang ia cintai. Si nenek sepertinya agak terkejut.

Benar bahwa si anak tadi sudah sering mengungkapkan kekesalannya kepada nenek dan abangnya.

Tetapi kali ini anak yang telah menginjakn kelas satu sekolah lanjutan pertama tadi tampaknya sangat marah.

Lantas, mengapa anak itu begitu marah? Ternyata, usut punya usut sia anak yang sedang beranjak remaja tadi memang merasa kecapaian setelah seharian belajar, belajar dan belajar.

Tuntutan sekolah, PR yang seabreg dan tugas ini dan itu yang sangat memberatkannya dari sekolah kini berdampak juga dengan situasinya di rumah. Ia menjadi pemurung dan mudah emosi.

Si anak berpikir, hidup ini hanya berjalan untuk mewujudkan kewajiban demi kewajiban. "Kapan aku menjalankan hakku sebagai remaja?" mungkin itu yang ada di pikirannya saban hari.

Maka yang terjadi siang tadi tampaknya tak lebih dari sekedar pelampiasan keletihannya, entah di sekolah atau di tempat les. Bukankah anak sekolah sekarang sungguh banyak dituntutu oleh sekolah?

Bagi beberapa orangtua yang tak mengerti anak-anak, bisa jadi ini adalah sikap pemberontakan. Namun tidak untuk mereka yang sungguh memahami bahwa ada masa di mana, pada tahap tertentu dari pertumbuhannya, si anak merasa hidup ini sangat membosankan: bangun, mandi, sekolah & les pelajaran di luar sekolah, makan siang di sekolah, pulang ke rumah, mandi dan tidur.

Hidup begitu menjemukan bagi mereka yang secara fisik sedang berhasrat pada kebebasan. Di titik inilah para orangtua harus menyadari kondisi riil si anak.

Maka, kalimat perintah harus diubah menjadi kalimat yang bersifat mengajak, dan cara memperlakukannya harus diubah dari seorang anak atau cucu menjadi seorang sahabat bagi mereka.

Mudah sekali mengatakan hal ini, tetapi dalam praktiknya ada banyak orangtua yang hanya bisa mengeluh, menyalahkan, dan yang paling parah adalah ketika si anak hanya dipandang sebagai pemberontak.

Kisah di atas mengingatkan kita bahwa hidup tak pernah berjalan dalam kebosanan ketika kita melihat dan merasakan hidup sebagai seni, terutama sebagai seni merawat persahabatan demi pertumbuhan satu sama lain.

So, RESERVE your life !

Lisa Huang

Posting Komentar

0 Komentar