Suara

Karena alasan tertentu, terutama karena jadwal yang sangat padat di asrama, ada saat di mana penghuninya harus berbisik di telepon, bahkan nyaris tak bersuara alias hanya mendengarkan suara pacarnya di seberang sana.

Nyatanya "pembicaraan" yang secara faktual itu bersifat monologis itu seringkali berlangsung lama. Hal itu bahkan berlangsung berulang-ulang, dan sang kekasih pun tak pernah keberatan alias sangat mahfum.

Tampak sekilas bahwa antar kedua orang yang sedang bertautan rasa cinta itu tak terjadi komunikasi ideal alias yang dialogis. 

Kendati tak bisa dipungkiri, ketika hal itu terjadi berulang-ulang dan tanpa adanya keberatan satu sama lain, maka sesungguhnya komunikasi antar-keduanya justru sangat mendalam.

Dalam pengalaman subyektif di atas, mungkin juga Anda, aku atau kita pernah mengalaminya, pada tingkat tertentu komunikasi tak selalu harus mengandalkan suara dalam arti besaran volume yang bergema dari pita suara kita.

Ini semacam sambung rasa, atau dalam bahasa yang umum disebut sebagai komunikasi batin, di mana satu dengan lainnya terjalin intimitas batin pula.

Inilah suara kerinduan yang akan terobati hanya dengan mengangkat telepon; dan itu seakan memastikan bahwa orang yang dicintainya di kejauhan sana ternyata masih "hidup" alias masih eksis; dan keyakinan itu dipastikan oleh apa yang sungguh mereka rasakan di kedalaman batinnya.


Lisa Huang

Posting Komentar

0 Komentar