Ketakutanku Adalah Keberanianmu

Semua orang punya ketakutan. Hanya beda kadar atau ukurannya. Faktanya ketakutan itu sendiri terkadang berda di depan (future) tetapi juga tak jarang ada di belakang (past).

Uniknya lagi, ketakutan pun seringkali berada secara bersamaan di masa lalu dan di masa depan.

Idealnya, ketakutan-ketakutan yang (pernah) menghinggapi hidup kita semestinya menggiring kita menjadi sosok yang berani.

Namun tak jarang juga ketakutan itu justru menjadi momok yang menghantui perjalanan seseorang menuju masa depannya.

Trauma adalah kata yang mewakili pernyataan di atas. Lihatlah, betapa "trauma" - ketika tak bisa diatasi - bisa menghentikan laju hidup seseorang. Ada banyak contoh tentang bagaimana pengalaman traumatis (yang dialami di masa lalu) menghadang atau menggoyahkan langkah seseorang untuk bangkit dari keterpurukannya.

Sekali lagi, ketakutan (dari masa lalu) seharusnya menjadi modal bagi keberanian kita untuk melangkah ke masa depan. Bukankah manusia selalu mampu belajar dari pengalaman masa lalunya? Pepatah Romawi Kuno bahkan pernah menegaskan bahwa "Hanya sapi yang akan jtauh ke lobang yang sama" ?

Artinya, sebagai manusia kita tak mungkin terperosok ke lobang yang sama lebih dari satu kali. Karena apabila hal ini terjadi, maka bisa dipastikan ia tak pernah mengevaluasi hidupnya.

Tentu tak ada orang yang tak pernah salah; juga tak mungkin ada orang yang tak memiliki ketakutan tertentu. Sebab begitulah hidup kita selalu berjalan dalam varian pengalaman yang selalu paradoks.

Tetapi pada akhirnya, ketakutan-ketakutan itu akan tertinggal dibelakang, bila kita menatap masa depan sebagai gerbang mengevaluasi atau wahana untuk terus-menerus memperbaiki hidup kita.

Kita sadar bahwa semua orang memiliki ketakutan masing-masing, entah ketakutan besar yang amat memengaruhi hidupnya (di masa lalu dan masa kini) atau bahkan ketakutan kecil yang mengganggu peziarahan hidupnya menuju masa depan. Namun, jauh lebih penting adalah belajar dari masa lalu: menjadikan ketakutan sebagai modal bagi lahirnya keberanian.

Di titik inilah kita butuh orang lain, terutama orang terdekat yang sedia membantu kita mengatasi, baik pengalaman traumatis dari masa lalu maupun rasa takut untuk melangkahkan kaki menuju masa depan. Bersama orang yang paling intim dengan kitalah ketakutan itu akan sirna, sebab "ketakutanku adalah keberanianmu"!

Lisa Huang

Posting Komentar

0 Komentar