Leluhur Dalam Perspektif Budaya Timur

Leluhur Dalam Perspektif Budaya Timur Dalam budaya BARAT, leluhur itu seorang yang sudah meninggal (berpindah dari tatanan biologis-material ke tatanan spiritual) dan tidak memiliki pengaruh lagi atas orang-orang yang masih hidup;sementara dalam budaya TIMUR, leluhur adalah anggota persekutuan masyarakat yang kehilangan badan-ragawinya, namun tetap berpengaruh atas orang-orang yang masih hidup.

 Dalam budaya BARAT, orang yang sudah meninggal samasekali tak punya pengaruh lagi atas orang yang masih hidup. Konsekuensinya, orang yang masih hidup tak perlu lagi berhubungan dengan orang yang sudah meninggal; sementara dalam budaya TIMUR, hubungan antara orang yang masih hidup dan orang yang sudah meninggal harus tetap terjalin. Hubungan itu memang tidak bersifat kausatif (timbal balik), melainkan syarat atau kondisi.

Konsekuensinya, orang yang sudah meninggal tetap berperan dalam masyarakat, dan oleh karena itu harus diberi makan dan hadiah-hadiah kesukaannya semasa hiduo. Inilah yang disebut sebagai kurban atau sesajen.

Bila dalam budaya BARATA kurban dipahami sebagai kata kerja: "suatu tindakan pengurbanan", maka dalam budaya TIMUR, kurban justru dipahami sebagai "sebuah pertukaran sosial" antara orang yang hidup dan orang yang sudah meninggal.


TITIK TEMU

Budaya BARAT hanya akan memahami budaya TIMUR apabila mereka mengguanakan cara pandang biokosmis, yakni cara pandang atas dunia di mana kesamaan lebih diutamakan daripada dikotomi/pemisahan.

Sebagaimana kita tahu, budaya BARAT sangat lekat dengan dikotomi: roh-materi, manusia-binatang, dst. Sementara budaya TIMUR lebih mengutamakan ketergantungan antara oran yang masih hidup, orang yang sudah meninggal dan keseluruhan tata semesta sebagai sebuah kesatuan yang tak terpisahkan.


Posting Komentar

0 Komentar