Reses

Reses Saat masih sekolah sekolah, kita paling suka momentum lonceng reses/istirahat berbunyi. Itu berarti kita keluar kelas dan berhenti sejenak, selama 5-15 menit dari proses belajar-mengajar di kelas.

Para rahib, biarawan/wati dan rohaniwan-rohaniwati juga punya kebiasaan masa reses. Ada yang mengisinya dengan rekoleksi atau retret. Para pastor, setelah menjalani beberapa tahun menjalani tahun Sabatikal.Pejabat publik juga punya masa reses. Biasanya di akhir pekan, seperti yang dilakukan Jokowi mudik ke Solo atau Donald Trump ke Camp David.

Pendek kata, kita semua butuh masa reses, istirahat sejenak dari keseharian kita, dengan tujuan untuk "mengisi batre" alias mengisi ulang energi agar lebih baik di hari berikutnya. Itu pula yang dilakukan calon bupati Simalungun, Irjen Pol (Purn) Drs. Wagner Damanik, M.A.P.

Ia menetapkan masa reses sendiri, setelah memenuhi satu tahap dalam pencalonannya sebagai calon independen, yakni penjaringan dan pengumpulan photocopy KTP calon pemilih.

Ibarat lompat jauh, Wagner Damanik mundur sejenak beberapa langkah demi mendapatkan lompatan terjauhnya di tahapa berikutnya. Bukan karena kehabisan batre, apalagi mulai berhitung kerugian, Wagner justru ingin menambah daya gedornya di tahap selanjutnya. Untuk itulah ia butuh "liburan sejenak" bersama keluarga, tempat di mana ia selalu mendapat dukungan dan kekuatan.

Wagner sadar bahwa mengumpulkan 77ribuan lebih photocopy KTP kadidat voters dan sudah diverifikasi bukanlah sebuath prestasi puncak dalam pilkada. Itu baru tahapan awal.

"Hari Kamis ini saya mau ke Jakarta dulu, lalu ziarah ke Yerusalem, lalu kembali ke Simalungun untuk melanjutkan perjalan kita di Simalungun, laweiku," katanya kepada saya via telepon hari Senin lalu.

Spontan saya menjawab, "Langkah yang sangat tepat itu, Bang. Abang sudah melalui tahap awal yang cukup melelahkan, mulai dari pengenalan diri, pengumpulan FC KTP dan verifikasi FC KTP yang didapatkan bersama tim. Doakan perjalanan kita lancar semua, lawei," tutupnya.

Semoga masa reses yang pendek yang dijalaninya ditengah keluarga dan dalam nuansa doa nan hening di tanah suci Yerusalem, Wagner memperoleh energi dan semangat yang lebih besar lagi.


Posting Komentar

0 Komentar