Ina-inaon



Istilah INA-INAON ini pertamakali saya dengar dari politisi kawakan sekaligus sahabat saya Oloan Simbolon OS. Secara harafiah, ungkapan ina-inaon (kayak ibu-ibu) menunjuk pada pria yang berlaku bak ibu-ibu. Dia marbete-bete (ngedumel sendiri), suka curhat di media sosial, dan curhat sana-sini hingg terkesan boros kata-kata.

Pria yang ina-inaon biasanya sensitif. Kalau seorang politisi, ia adalah penjual cerita fiktif, dan punya loyalitas yang sangat tinggi bila jadi ketua hore.Tentu, karena ia pintar membungkus gosip atau kisah fiktif, maka ia sering tampil bak seorang hakim, "Benar atau salah, aku yang menentykan!"

Pria na ina-inaon ini tak bisa tegas kayak pria umumnya. Walaupun dia Batak, dia tak mau bicara dengan gaya situlluk matani horbo (staright to the point).

Sepintas pria jenis ini kita disebut bencong, bila kebetulan tarian tubuhnya lemah gemulai. Tapi fisiknya kekar dan tampil gagah, mereka kerpa disebut sebagai pria fifty-fifty.

Mereka memang selalu punya bahan pembicaraan. Bahkan setiap jam dia bisa curhat 10 kali di akun medsosnya. Isinya ya, cuma curhat dan curhat. Kita bahkan tak pernah sungguh tahu apa yang sedang dibicarakan, siapa yang diomongin, dan mengapa ia harus ngomongin hal itu.

Dalam bahasa lae Oloan Simbolon, jenis ini berbahaya bila jadi pimpinan publik. Walaupun ada saja yang lolos hingga menjabat. Why? Sebab ada kecenderungan ia jadi diktator, karena tak ada kebenaran diluar sabdanya, entah itu berita burung atau hoax semata.

Tuhan memang menciptakan dua jenis kelamin, pria dan wanita. Tetapi dunia dengan segala kecanggihannya justru bisa melahirkan wanita bertubuh pria, pria dengan tubuh wanita.

So, ama-aman na ina-inaon ( bapak-bapak berperilaku ibu-ibu) ini masuk golongan mana? Bois.... #SaiNaAdongDo #DongDassa


Posting Komentar

0 Komentar