Kharisma Sebagai Energi Positif Wagner Damanik

Kharisma Sebagai Energi Positif Wagner Damanik
Beberapa kali pernah saya sampaikan kepada teman-teman tim #WDBISA di lapangan agar tidak terlau hiperbolis melukiskan perjumpaan mereka dengan WagnerDamanik dan Abidinsyah Saragih dalam postingan di medsos mereka.

Mereka justru bergeming. Mereka mengaku menulis apa adanya. 
"Itu yang aku lihat dan alami sendiri. Aku berupaya jujur saat mempostingnya di akun fesbukku, bang," jawab salah seorang pendukung #WDBISA.

Khusus untuk Wagner Damanik, kehadirannya selalu dinanti oleh masyarakat Simalungun. Masyarakat kita memang gampang mengagumi orang, tetapi sekaligus juga mudah nelangsa saat kepentingannya tak disanggupi orang yang dikagumi. 

Begitu juga dengan masyarakat Simalungun. Saat bertemu dengan seorang yang dianggap terhormat dan memiliki pribadi yang positif, hampir pasti sebagian besar warga menyukainya dan segera akan menjadi buah bibir ditengah masyarakat di nagori itu.

Begitu bertemu, mereka biasanya akan menyambut secara spontan. 

"Domma piga-piga hali hubasa i koran, hutonton i tivi, janah gatih homa do hutangar humbani halak nalegan i hutanta on tentang hami, bapa. Malas uhur boi langsung pajumpah janah masijalangan pakon hama, bapa. Halani seorang purnawirawan Jenderal, huagakhon do pala turun ham hu tongah-ltongah nami on. Nihuruku kan, pak, paling ra tim ni WD ai dassa na hu huta nami on. Hape ham sandiri do langsung turun dahkam," kata seorang ibu fansnya #MDyang sudah agak berumur.

Apakah ibu ini berlebihan? Tidak. Menurut kesaksian Robby Saragih saat menemani WD ke lapangan, sambutan luarbiasa selalu diberikan warga. Bukan pertama-tama karena banyak orang yang datang. Tetapi lebih pada ekspresi tulus warga itu.

"Di setiap kehadiran pak WD di nagori demi nagori, warga selalu antusias. Mereka seperti dikunjungi seorang yang sudah mereka kenal, walaupun secara fisik belum pernah bertemu," tutur Robby Saragih ke saya.

Ini namanya kharisma (kepemimpinan). Bisa jadi setiap kunjungan bupati ke nagori mereka, banyak warga yang datang. Bahkan Anak SD disuruh baris-berbaris sepanjang 1 km di pinggir jalan yagn dilewati bupati. Tapi, itu berkat kerja keras panitia., bukan?

Wagner tidak. Ia tak mengirim nuntius (utusan) terlebih dahulu ke nagori yang akan dikunjunginya dan membayar Event Organizer agar kedatangan Wagner Damanik disambut seperti mantan capres yang dulu bermain pleciden-plecidenan itu loh.

Kata orang Toba di Kecamtan Siantar,
"Saleleng on nipikkir molo nunga jadi Jenderal sampe purnawirawan ibana pasti godang pengawalnya. Hape amanta WD on, las songon sahalakna. Hundul iba di tikkar las dohot do amang i hundul disamping niba."

Ini kesan-kesan sepintas yang disampaikan oleh teman-teman di lapangan. Saya gak heran, karena Wagner memang berkharisma. Ia punya pesona, apalagi saat berbicara dan menyapa siapa saja.

Tak dibuat-buat. Dia memang begitu. Bukan pertama-tama karena ia butuh suara. Tubuhnya begitu hidup sehingga waktu terasa kurang bila berbindang dengannya.

Wagner ini menjalani hidup secara dinamis. Dia bukan mantan kapolda, kasatreskrim, atau wakapolri seperti beberapa teman angkatannya. Tetapi ia selalu menonjol di divisi manapun ia bertugas.

Kemampuan birokrasi, disiplin kerja dan kejujurannya Kalaupun iya, waktukah yang akan membuktinselalu menjadi dirinya, dan tak pernah sekalipun dia membantai lawan lewat ucapan nyelekit.

Bahkan saya kadang gemas melihat seorang Jenderal yang terlalu melebur dengan kultur lokal, hingga kehilangan kesangarannya. Tapi Wagner memang sungguh tahu (si)apa yang dibutuhkan warga Simalungun.

Ia memang seorang Simalungun yang lengkap, karena kepribadiannya sudah terasah di berbagai daerah di Indonesia ini. Kesahajaannya lahir bersamaan dengan pembentukan pribadinya itu.


Posting Komentar

0 Komentar