Ra Do Homa

Ra Do Homa


Ra do homa (biasa juga, maybe, perhaps) sering tampil dalam pembicaraan politik di kalangan masyarakat.

"Aku agak yakin kalau Pilkada kali ini giliran Sinaga yang akan jadi bupati," kata timnya RHS yang kebetulan bermarga Sinaga saat nongkrong di sebuah café di Sondi Raya bersama teman-teman garama-nya.
"Mase boi ihatahon ham sonai, lawei?" gugat temannya yang bermarga Saragih.

"Pokoni, ai ma menurut ramalanku, lawei," tegas Sinaga, yang aktif di Karang Taruna tingkat Nagori itu.

"Ija boi hasil pilkada iramal-ramal, lawei? Datuni bos ai pe lang sanggup, apalagi ham. Anggo boi do iramal ise holi na monang, lang dong be gunani pilkada on, dahkam. Alo tene, lang sonai do dahkam, panogolan Damanik?" kata si Garingging sambil minta pendapat Sidamanik yang duduk di sampingya.

Damanik yang aktivia garama GKPS Kongsilaita pun mw coba mencairkan suasana. Sambil menunggu juice pesanan mereka, Damanik pun mulai "berkotbah".
"Sono lawei, pakon ham panogolanku. Nini lawei Sinaga nokkan, Sinaga do juara i pilkada on. Hape pangoloan, ibagas pikiran pakon uhurmu pe ma boi hubaca. Anggo boi namin, Saragi ma namin sattolap duantolap nari. Ai pe lang salah," tutur Damanik bak orang bijak.

Sembari menyalakn rokok Garpitnya, Damanik melanjutkan,
"Anggo au lawei, pakon panogolanku... lang penting bakku marga ni calon ai. Pinomat calon ni bebas merdeka dari tekanan pihak lain. Artini, mamilih calon pe maningon independen do diri. Apalagi hita garama, marlajar hita humbani pengalaman nadob salpu.

Sebagai generasi milenial di era digital on maningon bebas-merdeka do hita mamilih. Ulang homani ipilih kita Sinaga halani panggitta, atik tapilih Saragi halani makkelanta. Apalagi roh hita holi hu TPS manaruhkon suara na dob ibayar calon tertentu. Kan bajan do sanai?" lanjut Damanik.

Baik Garingging maupun Sinaga hanya manggut-manggut aja dari tadi. Keduanya bahkan tak menyadari kalau yang disebut calon independen tadi marga Damanik.

Setelah di parkiran, Saragih pun menghampiri Damanik dan mencoba mengklarifikasi.
"Ham pe lang konsisten, panogolan. Nokan nini ham lang halani marga. Tapi ujung-ujungi iarahkon ham nami mandukung calin marga Damanik ai. Tongon do ai kan?" gugat saragih.

Beruntunglah Damanik, karena malam sudah semakin larut. Sambil menyalakan sepeda motornya, ia pun menjawab sambil ngakak,

"Ra do homa, panogolan."

Mereka pun menghilang ditelan malam. [LS]
_________

Ini asli cerita fiktif. Ini hanya ide liar saya saat mengenang 3 bulan tinggal di Ruko Sondi Raya tahun 2015 silam. Tapi muatan kisah ini original kok


Posting Komentar

0 Komentar