Sian Sitamiang Mardongan Tangiang


Vandiko memang anak negeri. Bukan pertama-tama karena ia anak pegawai negeri, tetapi ia bertumbuh di berbagai daerah di negeri ini. Ia banyak belajar dari masyarakat di mana sang ayah pernah ditugaskan negara.

Dari masyarakat di Pulau kalimantan ia belajar tentang kultur dayak, di Pulau Jawa ia belajar kultur Jawa, di Medan ia belajar karakhter orang Medan, dan terutam dari Bona Pasogitnya, Sitamiang-Samosir, ia mengafirmasi diri sebagai orang Batak bermarga Gultom. 

"Dalam setahun saya beberapa kali pulang kampung ke Sitamiang, Samosir," kata Vandiko kepada penulis. 

Sitamiang yang dimaksud vandiko adalah huta (desa/kelurahan) yang berada di kecamatan Onan Runggu, kabupaten Samosir, sejauh 55 km dari ibukota kabupaten Samosir, Pangururan. 

Selain Sitamiang, huta lain di kecamatan Onanrunggu adalah Harian, Huta Hotang, Janji Matogu, Onan Runggu, Pakpahan, Pardomuan, Rinabolak, Silima Lombu, Sipira, Sitinjak, dan Tambun Sungkean. 

Hal paling menarik bagi Vandiko setiap liburan ke Sitamiang adalah minimnya pembangunan di kampung leluhurnya itu.

"Dari dulu begitu-begitu saja. Akses jalan ke kampung belum di aspal dan sempit. Saya prihatin dengan kondisi tersebut," terang Vandiko. 

Akses jalan antar huta yang sangat minim, jaringan telepon dan internet yang belum merata, pengelolaan pertanian yang masih tradisional dan banyak hal yang membuat Samosir tertinggal dari kabupaten lain di sekitarnya. 

Tentu saja Vandiko tidak hanya bicara tentang kondisi di Huta Sitamiang. Saat Pemilu tahun 2019 lalu juga saya juga sempat menjelajah beberapa huta di dua kecamatan (Pangururan dan Ronggurnihuta) dengan kondisi serupa. Akses jalan masih jalan tu hauma (ke ladang): sempit, belum diaspal, dan sulit dilalui kendaraan bermotor. 

Padahal desa-desa berdekatan dengan spot-spot wisata. Sebut saja jalan ke Janji Maria, Parbaba Dolok, Pangururan, Sijambur di Ronggurnihuta, dst. Saya ingat, kami naik Avanza ke Janji Maria. Mobil kami mogok karena jalan berlumpur. Maklum saat itu hujan gerimis. 

Derita kami semakin lengkap karena jaringan telepon juga sulit di lokasi tersebut. Itu artinya kami harus berupaya sendiri keluar dari lumpur, karena tak bisa meminta bantuan dari luar. Syukurlah akhirnya kami bisa keluar. 

Jalan adalah penghubung interaksi antar masyarakat. Apalagi masyarakat batak yang begitu suka bersosialisasi. Mereka suka menghadiri pesta-pesta melayan orang meninggal, atau pergi ke Gereja terdekat.

Artinya, jalan rusak akan memenjarakan mereka di kampungnya sendiri. Hasil panen menjadi sangat murah karena medan sulit dijangkau. 

Itu sebabnya, bila dipercaya masyarakat, Vandiko menjadikan pembukaan dan pengaspalan jalan antar huta sebagai program pionirnya. Bagi Vandiko, jalan yang mulus menjadi awal bagi kemajuan masyarakat di sebuah huta.


Posting Komentar

0 Komentar