Pendidikan Ditangan Vandiko

Salah satu program paling seksi dari seorang calon bupati adalah bidang pendidikan. Bagaimana tidak, pendidikan, mulai dari pendidikan keluarga, pendidikan di lingkungan masyarakat, dan pendidikan formal lah yang menjebatani seseorang berani mencalonkan diri sebagai kepala daerah.

Sayangnya, banyak calon kepala daerah yang menyebut pendidikan hanya sepintas lalu dalam programnya,
"Akan kubangun jalan mulus ke kampung X, listrik akan menerangani warga di pelosok dan jaringan internet akan menjangkau seluruh daerah ini," kata seorang calon dalam kampanyenya.
Atau kata calon lain yang menomorsatukan pertanian dalam programny,  karena mayoritas warga daerah itu petani,
"Saya anak petani. Saya bisa seperti sekarang ini, karena saya jasa seorang petani. Tetapi saya prihatin dengan pertanian kita, karena masih dikelola secara tradisional. Maka, kalau saya terpilih nanti jadi kepala daerah, saya akan menerapkan teknologi pertanian terbaru di daerah ini. Petani sejahtera," kata calon kepala daerah lainnya.
Ringkasnya, nyaris tak ada calon kepala daerah yang menjadikan program pendidikan sebagai program penting bagi mereka.Mereka beralasan,
"Orangtua di kabupaten ini masih sanat miskin. Alih-alih memikirkan pendidikan untuk anak-anaknya, makan saja susah."
Andai pun ada program pendidikan, maka paslon-paslon kepala daerah itu paling hanya menyebut program beasiswa,
"Kami akan memberikan beasiswa bagi anak-anak daerah yang berprestasi dari keluarga kurang mampu."

Ternyata alasan kemiskinan bukanlah penghambat utama anak-anak tidak cerdas. Sebaliknya, justru anyak anak-anak kampung yang secara genetik cerdas, atau karena belajar secara otodidak. Sangat disayangkan ketika para paslon kepala daerah itu hanya melihat pendidikan dari perspektif ekonomi saja. Mereka bahkan tak melihat dimensi pendidikan di tanah Batak, misalnya sebagai tolok ukur keberhasilan keluarga dan masyarakat Batak: "Anakhonhi do hamoraon di au".

Hal ini menjadi keprihatinan saya selama ikut terlibat dalam pilkada. Sehingga dalam percakapan awal dengan para calon kepala daerah, saya selalu mulai dengan pertanyaan,"Program apa yang telah Anda rancang untuk memajukan pendidikan di daerah yang akan Anda pimpin?

Pertanyaan yang sama juga saya ajukan kepada balon bupati Samosir Vandiko Timotius Gultom saat berbincang santai di sebuah cafe di bilangan Tanjung Sari, Medan (15/7). Sebagai orang yang cukup concern dengan pendidikan, saya harus tahu bagaiman seorang kepala daerah mempersiapkan generasi mudanya. Dan Samosir, bersama Tobasa, Taput dan Humbahas adalah daerah penghasil SDM yang prima di Indonesia. Ada jenderal, pengusaha besar, hakim, pengacara, jaksa, dirjen, dan beberapa tersebar sebagai ASN berpangkat eselon 1.

Tetapi semua keberhasilan itu tak lebih daripada usaha pribadi, disamping dukungan orangtua dan keluarga kecil mereka. Jadi, bukan pertama-tama karena perhatian khusus dari pemkab Taput, Tobasa atau jasa pemkab Samosir setelah terbentuk jadi kabupaten 15 tahun silam.

Terkait pencalonannya, Vandiko menegaskan bahwa Pendidikan menjadi salah satu prioritas pembangunan yang ia canangkan bersama balon wakilnya Martua Sitanggang. Pendidikan akan mereka majukan bersamaan dengan pembangunan sarana publik.
"Saya bahkan sudah memikirkan untuk mendirikan perguruan tinggi di Samosir ini. Terkait dengan semakin terbukanya Samsir menjadi salah satu destinasi wisata, maka keberadaan perguruan tinggi negeri akan sangat penting. Paing tidak akademi yang membuka jurusan pertanian, pariwisata dan Teknologi Informasi," kata Vandiko.

Ini ide besar diikuti kerjakeras dan keseriusan yang tinggi hal ini pasti bisa diwujudkan. Tentu bila Vandiko dipercaya masyarakat Samosir menjadi pemimpin mereka.
"Saya akan serahkan bidang ini kepada ahlinya. Bila dipercaya jadi bupati, saya akan melibatkan berbagai selain pemerintah daerah, yakni pemerintah pusat, kementerian pendidikan, para pimpinan kopertis di provinsi Sumatera Utara, para pengusaha asal bonapasogit, dan tentu masyarakat Samosir sendiri. Saya yakin ide ini akan terwujud," tegas Vandiko,
Vandiko benar. Pendidikan adalah proses tiada henti dan tak pernah terwujud tanpa kerjasama dengan berbagai pihak. SMAK Negeri Samosir yagn ada di Tarabunga, Simbolon adalah contoh nyata di Samosir. Pastor Nelson Sitanggang dan Kakan Kemenag Samosir merancang sekolah menengah agama Katolik ini mulai dari membuka kelas katekesedi Pangururan.

Setelah pengikutnya makin banyak, maka Pastor Nelson mulai memindahkan kelas itu ke aula Palipi, cikal bakal sekolah berasrama dibuka. Hingga akhirnya berkat kerjasama yayasan dengan berbagai pihak, mulai dari Keuskupan Agung Medan, Bimas Katolik Kemenag RI, Pemkab Samosir, daru masyarakat lokal dan para perantau Samosir, Sekolah ini akhirnya bisa berdiri megah, bahkan pada tahun 2018 sekolah in sudah di-negeri-kan (Sumber: Lusius Sinurat, Saat BidukMu Menepi di Tarabunga, 2017).

Bagi Vandiko, alumni teknik sipil ITS bisa saja Vandiko hebat di bidang pembangunan sarana dan prasarana publik. Tetapi bidang lain tak terlalu ia kuasai, "Mana mungkin semua hal saya tahu, lae. Yang penting adalah bagaimana mengelola anggaran yang tersedia untuk kepentingan publik," tambah anak muda yang sudah memikirkan kepentingan publik ini. [LS]


Posting Komentar

0 Komentar